Sekilas Biografi Imran N Hosein
Imran Nazar Hosein adalah seorang ulama, cendekiawan, penulis, dan
filsuf Islam, yang lahir pada tahun 1942 di kepulauan Karibia Trinidad. Orang
tua dan leluhurnya berasal dari India dan merupakan suku Asli Pasthun yang
mayoritas mendiami Pakistan dan Afghanistan.
Imran Hosein dikenal luas atas keahlian dan interpretasinya dalam
eskatologi Islam (ilmu tentang akhir zaman), politik dunia, ekonomi, dan
isu-isu terkait sosial-ekonomi/politik modern. Interpretasi serta pandangannya
yang unik dan sering sekali kontroversial telah membuatnya menjadi tokoh yang
menarik perhatian banyak kalangan, baik yang sependapat dengannya maupun yang
berbeda pendapat.
Imran bermula sebagai penggiat sains, yang pada akhirnya
mempertemukan ia dengan guru spiritualnya, yakni Fazlurrahman Ansari, yang
nantinya akan mengubah cara pandangnya tentang pemahaman Islam. Imran
bercerita, pada malam saat ia menghadiri kajian ilmiah yang diisi oleh
Fazlurrahman, ia terpesona dan takjub akan kesarjanaannya. Imran mengatakan;
“Saya terkejut saat mengetahui bahwa al-Qur’an berkali-kali menggunakan
“observasi” dan “penalaran induktif” untuk menginterpretasikan dan mendapatkan
pemahaman yang sesuai. Oleh karena itu, metode seperti itu dinamakan dengan
“penyelidikan ilmiah”. (Methodology for Study of The Qur’an, hlm. xx)
https://imranhosein.org/inhmedia/books/MethodologyforStudyoftheQuran.pdf
Berangkat dari sana Imran ingin juga menjadi ulama Islam. Pada
bulan November 1963, di usia 21 tahun, Imran menjadi mahasiswa Al-Azhar, Kairo.
Namun, ia tidak menemukan keilmuan yang menakjubkan seperti yang ia temukan
dalam diri Fazlurrahman. Menurutnya, para ulama Azhar terjebak dalam waktu dan
tidak dapat dibandingkan dalam hal pemahaman keilmuan mereka mengenai realitas
zaman modern yang aneh dan penuh tantangan. (Methodology for Study of The
Qur’an. hlm. xxii)
https://imranhosein.org/inhmedia/books/MethodologyforStudyoftheQuran.pdf Kemudian Imran meninggalkan Mesir dan pergi ke Pakistan pada
bulan Agustus 1964 untuk menjadi murid Fazlurrahman di Aleemiyah Institute of
Islamic Studies, Karachi, Pakistan. Selain itu, ia juga menempuh studi
pascasarjana di bidang Filsafat di Karachi University, dan Hubungan
Internasional di University of the West Indies serta Graduate Institute of
International Studies, Geneva.
Pandangan Imran terhadap al-Qur’an
Imran Hosein dikenal luas karena interpretasinya yang mendalam
terhadap al-Qur’an, terutama dalam kaitannya dengan eskatologi (ilmu tentang
akhir zaman) dan politik dunia. Ia seringkali mengaitkan ayat-ayat al-Qur’an
dengan peristiwa-peristiwa terkini dan memberikan tafsir yang unik. Dalam
setiap ceramahnya, Imran seringkali memulai muqaddimahnya dengan mengutip
potongan QS. An-Naḥl [16]: 89 yang berbunyi:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الكِتَابَ
تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ
“Kami turunkan Kitab (al-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala
sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim”.
Menurutnya, al-Qur’an secara terang-terangan telah membuat
pernyataan bahwa al-Qur’an diturunkan untuk menjadi penjelas atas segala
sesuatu. Implikasinya adalah bahwa pernyataan tersebut harus mampu menjelaskan
sesuatu yang paling aneh, paling misterius, dan yang paling tidak dapat
dijelaskan oleh siapapun. Begitu juga hal serupa sering ditemukan di dalam
karya-karya tulisnya. Lihat (Jerussalem in the Qur’an, hlm. 7) Jerusalem in the Qur'an -
Original.PDF
Sebagaimana Ibnu Mas’ūd mengatakan; yang dimaksud تِبْيَانًا
لِكُلِّ شَيْءٍ dalam ayat di atas
adalah menjadi penjelas segala ilmu dan segala sesuatu. Menurutnya, lafal كُلِّ
شَيْءٍ dalam ayat di atas bersifat umum dan
komprehensif. Al-Qur’an mencakup setiap ilmu pengetahuan yang berguna, berisi
berita-berita masa lalu dan pengetahuan tentang apa yang akan datang, juga
penetapan halal dan haram, dan segala hal yang dibutuhkan manusia dalam hal
perkara dunia dan agama mereka, serta kehidupan dunia dan perkara akhirat. Lihat
(Tafsīr Ibnu Kathīr) https://tafsir.app/ibn-katheer/16/89
Argumen Ibnu Mas’ūd ini yang menjadi sandaran Imran berani
mengatakan hal demikian, bahwasanya al-Qur’an harus bisa menjelaskan segala
fenomena yang terjadi di kehidupan manusia, sekalipun fenomena tersebut sangat
rumit dan misterius, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Berikut salah
satu penafsiran Imran akan dijelaskan kemudian.
Contoh Interpretasi Imran dalam QS. Ar-Rūm Ayat 1-7
الم (١) غُلِبَتِ الرُّوْمُ (٢)ً
فِي أَدْنَى الأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَ (٣) فِي
بِضْعِ سِنِيْنَ للهِ الأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ
المُؤْمِنُوْنَ (٤) بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ العَزِيْزُ
الرَّحِيْمُ (٥) وَعْدَ اللهِ لَا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ (٦) يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِنَ الحَيَوةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَفِلُوْنَ (٧)
Alif Lām Mīm (1) Bangsa Romawi telah dikalahkan (2) di negeri yang
terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang (3) dalam beberapa
tahun (lagi). Milik Allah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari
(kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin (4) karena
pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang (5) (Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (6) Mereka mengetahui yang lahir
(tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka
lalai (7)
Menurut Imran, surah ar-Rūm atau surah yang secara spesifik
diberi nama Kristen memberitakan tentang peristiwa yang sangat penting, yaitu
bahwa Rūm atau Kerajaan Kristen Byzantium yang dikalahkan oleh orang
Persia, akan segera menyerang balik dan menang. Dalam bukunya, The Qur’an,
the Great War, and the West, Imran menyatakan ayat tersebut sebagai
berikut: (Imran N. Hosein, The Qur’an The Great War and the West, hlm. 39).
https://imranhosein.org/o/wp-content/uploads/2020/05/The-Quran-the-Great-War-and-the-West-OPT.pdf
Alif Lām Mīm. Rum telah dikalahkan di sebuah negeri yang dekat;
namun terlepas dari kekalahan yang mereka alami ini, mereka akan segera meraih
kemenangan, dengan kemenangan yang akan tiba hanya dalam beberapa tahun lagi.
Kemenangan akan terjadi dua kali atas kehendak Allah, baik sebelum maupun yang
mendatang; dan pada hari ketika Rum menang orang-orang beriman akan bersukacita
menyambut pertolongan Allah yang dengannya Allah menurunkan kemenangan. Dia
menolong di jalan ini siapa saja yang Dia kehendaki untuk ditolong, karena Dia
lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Biarkan dunia memperhatikan janji
Allah akan kemenangan bagi bangsa Rum dalam dua kesempatan, dan ingatlah bahwa
Allah tidak pernah luput dalam menepati janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui. Melainkan mereka hanya punya pengetahuan tentang penampakan
luaran yang kekinian saja, sedangkan terhadap rangkaian peristiwa yang akan
terjadi pada akhir zaman (yakni penghujung masa), mereka lalai.).
Hal yang menarik dari interpretasi Imran, ia menyatakan kemenangan
dua kali bangsa Rum. Imran menganggap kebanyakan dari mufassir setuju bahwa
ayat ini memberitahukan kita akan adanya kemenangan, tetapi kebanyakan mereka
menyimpulkan bahwa kemenangan kedua tersebut terjadi ketika kaum Muslim
memenangkan perang melawan kaum Quraisy di Perang Badar. Masalahnya pendapat
yang mengatakan kemenangan kedua yang ada dalam al-Qur’an adalah kemenangan
umat Islam di Perang Badar melawan kaum Quraisy dianggap tidak pas oleh Imran
terhadap konteks kata sebelum dan sesudah dalam ayat ini. (Constantinople
in the Qur’ān, hlm. 45-46). https://imranhosein.org/o/wp-content/uploads/2018/12/Constantinople-in-the-Quran.pdf
Menurut Imran, konteks ayat ini mewajibkan kita untuk memahami
bahwa kata sebelum dan sesudah ini berkaitan dengan Rum, sehingga
merujuk pada peristiwa yang menentukan dalam sejarah Rum. Peristiwa yang
dianggap Imran berkaitan dengan bangsa Rum dan sesuai dengan konteks kata sebelum
dan sesudah dalam surah ar-Rum yaitu perpecahan besar antara Timur
dan Barat, yang terjadi sekitar empat ratus tahun kemudian pada tahun 1054
ketika Dajjal merekayasa perpecahan Rum menjadi dua. Satu bagian dari Rum tetap
tinggal di Konstantinopel yang menjadi ibu kotanya, yang melestarikan
kepercayaan Ortodoks dalam Kekristenan yang dikenal sebagai Kristen Ortodoks.
Sedangkan bagian lainnya, yaitu bagian Barat dari Rum yang berpusat di Vatikan
yang menganut epistemologi “mata satu” Dajjal yang melahirkan sekularisme
pertama dan materialisme, dan kemudian dikenal sebagai peradaban Barat Modern. (Constantinople
in The Qur’ān, hlm. 46). https://imranhosein.org/o/wp-content/uploads/2018/12/Constantinople-in-the-Quran.pdf Dua Rum yang terpecah menurut Imran, pertama Rum Timur yang
masih menganut dan melestarikan kepercayaan Ortodoks yang sekarang di Rusia,
dan kedua, Rum Barat yang sekarang beraliansi dengan Nato dan sekutunya.
Ayat dari al-Qur’an di atas dilanjutkan dengan menyatakan bahwa
pada hari dimana Byzantium menang, orang Muslim akan merayakan kemenangan
(Byzantium) tadi dengan penuh keyakinan bahwa kemenangan tersebut adalah
merupakan pertolongan Allah, kesimpulan ayat di atas adalah bahwa kaum Kristen
Byzantium yang percaya kepada Yesus sebagai anak Tuhan, dan mereka menyembah
Yesus sebagai orang ketiga dalam konsep trinitas Ketuhanan, tidak menghalangi
orang Muslim untuk merayakan kemenangan orang Kristen tersebut, dan
(kekristenan mereka) tidak menjadi penghalang bagi kaum Kristen tersebut untuk
menang. Sehingga kaum Rum itulah yang al-Qur’an maksudkan sebagai orang Kristen
yang akan penuh cinta dan kasih sayang kepada orang Muslim. (Methodology for
Study of The Qur’an. hlm. 149-150)
https://imranhosein.org/inhmedia/books/MethodologyforStudyoftheQuran.pdf
Implikasi penafsiran Imran terhadap Masyarakat
Penafsiran Imran Hosein terhadap al-Qur’an, khususnya dalam
menghubungkan ayat-ayat dengan peristiwa terkini, memiliki implikasi yang cukup
signifikan terhadap Masyarakat. Akan selalu ada dampak positif dan juga
negatif. Adapun implikasi yang akan muncul diantaranya:
1.
Implikasi Positif
Pertama, meningkatkan kesadaran akan
al-Qur’an. Penafsiran yang menghubungkan al-Qur’an dengan realitas kehidupan
sehari-hari dapat membantu Masyarakat lebih memahami dan menghayati pesan-pesan
yang terkandung di dalamnya. Kedua, memicu pemikiran kritis. Pendekatan
Imran Hosein yang seringkali menantang pemahaman konvensional dapat mendorong
Masyarakat untuk berpikir lebih kritis dan menganalisis berbagai isu dari
perspektif al-Qur’an. Ketiga, meningkatkan rasa relevansi agama. Dengan
menghubungkan ajaran Islam dengan isu-isu kontemporer, penafsiran Imran dapat
membuat agama terasa lebih relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Keempat,
mendorong semangat keislaman. Penafsiran yang berfokus pada tanda-tanda
akhir zaman dan peranan umat Islam dalam Sejarah dapat meningkatkan semangat
keislaman dan mendorong umat untuk lebih aktif dalam beribadah dan berdakwah.
2.
Implikasi Negatif
Pertama, terjadinya polarisasi. Penafsiran
yang kontroversial dapat memicu perdebatan dan polarisasi di kalangan umat
Islam, terutama jika berbeda dengan penafsiran yang sudah mapan. Kedua, misinterpretasi.
Pembaca awam mungkin kesulitan memahami nuansa-nuansa dalam tafsir Imran Hosein
dan akhirnya melakukan misinterpretasi yang dapat memunculkan pemahaman yang
keliru tentang ajaran Islam. Ketiga, radikalisme. Jika penafsiran yang
dilakukan tidak berimbang dan terlalu menekankan aspek-aspek tertentu, misalnya
kekerasan atau jihad, hal ini dapat memicu radikalisme dan ekstremisme. Keempat,
menyederhanakan kompleksitas al-Qur’an. Upaya untuk menghubungkan al-Qur’an
dengan peristiwa terkini secara langsung dapat menyederhanakan kompleksitas
teks suci dan mengabaikan konteks Sejarah dan budaya.
Secara keseluruhan, implikasi penafsiran Imran Hosein terhadap
Masyarakat sangat bergantung pada bagaimana penafsiran tersebut diterima dan
diinterpretasikan oleh masing-masing individu. Sangat penting bagi setiap
Muslim untuk memiliki pengetahuan yang cukup tentang al-Qur’an dan hadis, serta
kemampuan untuk berpikir kritis, agar tidak terjebak dalam pemahaman yang
keliru.
Wabillahi al-Taufīq…