Takwa sering diartikan sebagai bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya, Allah Subḥānahū Wa Ta’ālā. Arti takwa secara umum adalah melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Swt, dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa juga kerap kali dijadikan sebagai barometer kedekatan bagi seorang hamba dengan Allah Swt. atau dijadikan sebagai standar keimanan seorang hamba.
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. ‘Ālī ‘Imrān
ayat 102:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan Muslim.
Dapat dilihat, secara umum bahwa ayat di
atas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada Allah Swt.
dengan sebenar-benarnya. Lalu apa makna takwa dengan sebenar-benarnya?
Wahbah Zuhailiy di dalam kitab tafsirnya [Al-Tafsīr
al-Wajīz, hlm. 64] menjelaskan
arti takwa pada ayat di atas adalah untuk bersikap patuh kepada Allah Swt.
dengan sepenuhnya, dengan cara menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya,
bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan-Nya dan tidak kufur, serta selalu
ingat kepada-Nya tanpa sesaat pun lupa
kepada-Nya.
Demikian juga disebutkan dengan redaksi
yang serupa oleh Imam al-Qurthubī di dalam tafsirnya. Ia menambahkan perkataan Imam Ibnu ‘Abbās
yang mengatakan, “maksud dari takwa dengan sebenar-benarnya adalah untuk tidak
berlaku maksiat kepada Allah Swt. sekejap mata sekali pun” [Al-Jāmi’ al-Aḥkām
al-Qur’ān, juz 5, hlm. 238].
Sebagian mufasir mengatakan ketika surah ‘Āli
‘Imrān ayat 102 turun para sahabat bertanya akan hal itu. Siapa yang akan mampu
melaksanakan ketakwaan dengan tingkatan sebenar-benarnya ketakwaan. Padahal ada
maqalah yang mengatakan الإِنْسَانُ
مَحَلُّ النِّسْيَان وَالخَطَإِ
(manusia adalah tempatnya keluputan dan kesalahan).
Perdebatan di dalam surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102
Para mufasir berbeda pendapat perihal surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102. Sebagian mengatakan bahwa surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102 sudah dinaskh oleh
surah at-Taghābun ayat 16, yang berbunyi:
فَاتَّقُوا
اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat
kemampuanmu!
Imam al-Qurthubī menjelaskan mengenai perdebatan tentang ayat ini, apakah ayat ini sudah dinaskh
atau kah belum. Setidaknya akan ada
2 pendapat yang dirangkum pada pembahasan kali ini:
1.
Pendapat yang mengatakan surah ‘Āli ‘Imrān
ayat 102 dinaskh
قَال مُقَاتِل: وَلَيْسَ فِي آلِ عِمْرَان مِنَ المَنْسُوخِ شَيْئٌ إِلَّا
هَذِهِ الآية
Di dalam tafsir al-Qurthubī, Muqātil mengatakan,
“Tidak ada satu pun ayat di dalam surah ‘Āli ‘imrān yang dinaskh kecuali
ayat ini”, yakni surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102. [Al-Jāmi’ al-Aḥkām al-Qur’ān, juz.
5, hlm. 238].
Menurut Qatādah, as-Sayyid, ar-Rabī’ bin Anas,
dan Ibn Zaid berpendapat bahwa surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102 dinaskh oleh
surah at-Taghābun ayat 16 dan surah al-Baqarah ayat 286 [Al-Muḥarrar
al-Wajīz, juz. 2, hlm. 304] yang berbunyi:
لَا
يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak akan membebani seseorang,
kecuali menurut kesanggupannya.
2.
Pendapat yang mengatakan surah at-Taghābun ayat 16 tidak menaskh melainkan sebagai bayān (penjelas)
وَقَدْ
رَوَى عَلِيٌّ بنُ أَبِي طَلْحَة، عَن ابنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ((يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ)) قَال: لَمْ تُنْسَخْ،
وَلَكِن ((حَقَّ تُقٰىتِهٖ)) أَنْ تُجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَلَا
تَأْخُذْكُمْ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَتَقُوْمُوا بِالقِسْطِ وَلَوْ عَلَى
أَنْفُسِكُمْ وَأَبْنَائِكُمْ
‘Alī bin Abī Thalhah meriwayatkan dari Ibnu
‘Abbās ra. ia berkata, “Firman Allah يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
tidak dinaskh, akan tetapi makna حَقَّ تُقٰىتِهٖ yang terkandung pada ayat tersebut adalah
bersunggung-sungguh dengan kesungguhan yang sebenar-benarnya [Al-Jāmi’ al-Aḥkām al-Qur’ān, juz. 5, hlm. 238]. الجهد juga sering diartikan sebagai keinginan
gigih untuk mencapai sesuatu.
Kelompok jamaah ahli
ilmu, sebagaimana dikutip dari [Al-Muḥarrar al-Wajīz, juz. 2, hlm. 304] karya Ibnu ‘Athiyyah, mengatakan, “Tidak ada naskh di
dalam masalah ini. Antara ‘Āli ‘Imrān ayat 102 dan at-Taghābun ayat 16 sesuai.
Tidak ada pertentangan.
Kemudian di dalam [Al-Jāmi’ al-Aḥkām
al-Qur’ān, juz 5, hlm. 238] karya al-Qurthubī juga disebutkan bahwasanya
ayat فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا
اسْتَطَعْتُمْ
menjadi bayān (penjelas) surah ‘Āli ‘Imrān ayat 102. Pendapat inilah
yang paling benar menurutnya.
Sedangkan menurut Quraish Shihab, ayat ‘Āli
‘Imrān ini menjelaskan batas akhir dari dan puncak takwa yang sebenarnya.
Sedangkan ayat at-Taghābun berpesan agar tidak meninggalkan takwa sedikit pun,
karena setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk bertakwa, dan tentu saja
kemampuan itu bertingkat-tingkat. Yang penting bertakwalah sepanjang kemampuan,
sehingga jika puncak dari takwa yang dijelaskan di atas dapat diraih, maka
itulah yang didambakan, tetapi bila tidak, maka Allah tidak membebani seseorang
melebihi kemampuannya [Tafsir al-Misbah, jld. 2, hlm. 168].
Dengan demikian, melalui pemahaman ayat ‘Āli
‘Imrān ini, semua orang beriman dianjurkan berjalan pada jalan takwa, semua
diperintahkan berupaya menuju puncak, dan masing-masing dari mereka selama
berada di jalan itu, akan memperoleh anugerah sesuai dengan usahanya. Ayat ‘Āli
‘Imrān adalah arah yang yang dituju, yakni mencapai tingkatan حَقَّ تُقٰىتِهٖ (sebenar-benarnya ketakwaan). Sedangkan ayat at-Taghābun adalah
jalan yang ditempuh menuju arah itu, yakni dengan kemampuan serta totalitas
hamba menggapai arah yang dituju. Dengan demikian kedua ayat tersebut tidak saling
bertentangan, bahkan saling melengkapi.
Pelajaran yang terkandung dalam surah ‘Āli
‘Imrān ayat 102
1. Proteksi
(penjagaan) diri
Sudah dijelaskan sebelumnya bahwasanya ayat ‘Āli ‘Imrān 102 adalah arah yang dituju sedangkan
ayat at-Taghābun adalah jalan yang ditempuh.
Sepatutnya seorang
hamba mengerahkan sekuat tenaga, seluruh kemampuannya, totalitas, keinginan
gigih dalam menjalankan ketakwaan kepada Allah Swt. sebagaimana yang sudah
dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbās di atas.
Sekuat tenaga di sini
diartikan mengerahkan semua kemampuan untuk menjalankan seluruh perintah Allah
dan segala larangan-Nya. Seberat apapun rintangan hamba untuk menjalankan
perintah Allah, tetap harus dilewati. Sebesar apa pun godaan melakukan
keburukan, harus dihindari. Sebab keburukan itu tidak hanya datang dari
eksternal diri manusia, akan tetapi keburukan itu bisa muncul dari internal
manusia. Manusia memiliki potensi untuk melakukan kerusakan, kejahatan dan
sebagainya. Maka dari itu dengan memperoteksi diri dengan ketakwaan, seseorang
bisa terhindar dari berbuat buruk dan berlaku kriminal.
2. Jalan menuju
ḥusnul khātimah
وَلَا
تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Dan janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan Muslim.
Pada akhir ayat Allah Swt. mengatakan, “Janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan Muslim”.
Kematian adalah hal yang dirahasiakan oleh
Allah. Tidak ada seorang hamba biasa yang mengetahui kapan ajalnya akan datang
menjemput. Kematian adalah perkara gaib. Tidak bisa diundur atau dimajukan
barang sedetik pun.
Ayat ini adalah ayat kināyah. Kināyah adalah
ungkapan yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman maknanya, serta
boleh juga menghendaki makna dari lafal tersebut. Artinya Allah Swt.
memerintahkan hamba-Nya agar sesantiasa tetap dalam keadaan menjadi seorang
Muslim.
Imam Ibnu ‘Athiyyah mengatakan:
وَقَولُه
تَعَالَى: ((وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ)) مَعنَاهُ: دُومُوا عَلَى الإِسْلَامِ حَتَّى
يُوَافِيَكُم المَوْتُ وَأَنْتُم عَلَيْهِ
Makna dari firman Allah di atas adalah, “Tetaplah
kamu dalam naungan Islam sampai kematian mendatangimu dan kamu dalam keadaan
Muslim” [Al-Muḥarrar al-Wajīz, juz. 2, hlm. 305].
Ketika hamba selama hidupnya tetap dalam
keislamannya, tetap dalam ketakwaan kepada Allah Swt. maka ketika nanti maut
datang menjemput, ia mati dalam keadaan Muslim. Semoga kita semua dimatikan
dalam keadaan Muslim. Āmīn.
Wallāhu ‘A’lamu Bishshawāb
.png)